Menjadi bagian dari Pelatnas merupakan puncak impian bagi setiap atlet di tanah air, namun posisi ini membawa tanggung jawab yang sangat besar. Di Pelatnas Aceh, tekanan untuk berprestasi di kancah internasional sering kali membuat kesehatan mental menjadi sangat rentan. Oleh karena itu, pengaturan jadwal konseling yang terstruktur menjadi salah satu kebijakan prioritas. Dengan menempatkan kesehatan jiwa sejajar dengan kesehatan fisik, Aceh menunjukkan bahwa mereka mengelola atlet sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin pencetak medali.
Jadwal konseling yang diatur secara sistematis memungkinkan setiap atlet mendapatkan slot waktu untuk berbicara dengan tenaga profesional tanpa mengganggu rutinitas latihan mereka. Mengapa jadwal ini sangat krusial? Karena dalam kehidupan atlet Pelatnas, mereka sering kali hidup dalam isolasi, jauh dari keluarga, dan terkurung dalam jadwal latihan yang repetitif. Tanpa adanya pelepasan emosional yang terukur, akumulasi tekanan akan meledak dalam bentuk penurunan motivasi atau bahkan gangguan kecemasan. Jadwal yang rutin memastikan setiap atlet memiliki ruang untuk “mengeluarkan uneg-uneg” sebelum beban tersebut menjadi terlalu berat untuk dipikul.
Sesi konseling di Aceh tidak hanya berfokus pada masalah berat, tetapi juga pada pemeliharaan kebahagiaan atlet sehari-hari. Atlet diajarkan untuk mengenali tanda-tanda awal burnout, seperti hilangnya minat pada latihan, perubahan pola tidur, atau iritabilitas yang tinggi. Dengan memahami sinyal-sinyal dari tubuh dan pikiran sendiri, atlet menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan mereka. Konselor di Pelatnas Aceh berperan sebagai navigator yang membantu atlet menemukan kembali keseimbangan antara ambisi besar mereka dengan kebutuhan mendasar akan kedamaian batin.
Selain sesi individual, sesi kelompok juga diadakan untuk membangun kohesi tim. Dalam sesi ini, atlet berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi. Saling bertukar cerita tentang bagaimana mengatasi rasa jenuh di Pelatnas menjadi sangat efektif untuk mengurangi rasa terisolasi. Atlet sadar bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangannya; rekan-rekan mereka pun menghadapi tekanan yang serupa. Solidaritas yang terbangun dalam sesi konseling inilah yang kemudian tercermin dalam kerja sama tim yang lebih kuat saat mereka berlaga di ajang internasional.
