Gulat bukan sekadar olahraga fisik yang melibatkan bantingan dan kuncian; ia adalah manifestasi dari kekuatan mental dan integritas jiwa seseorang. Di Bumi Serambi Mekkah, olahraga gulat tumbuh subur dengan nilai-nilai lokal yang sangat kuat. Melalui pendekatan yang mendalam, lahir sebuah prinsip yang dikenal sebagai keberanian tanpa batas. Prinsip ini bukan hanya slogan semata, melainkan menjadi filosofi latihan gulat di PGSI Aceh yang ditanamkan sejak hari pertama seorang calon atlet menginjakkan kaki di atas matras. Di Aceh, gulat dipandang sebagai sarana untuk membentuk manusia yang memiliki ketangguhan lahir dan batin dalam menghadapi segala rintangan hidup.

Filosofi ini berakar pada sejarah perjuangan masyarakat Aceh yang dikenal pantang menyerah. Di pusat pelatihan, para atlet diajarkan bahwa rasa takut adalah musuh terbesar yang harus ditaklukkan sebelum menghadapi lawan di lapangan. Latihan di PGSI Aceh menekankan pada ketahanan mental (mental toughness) yang luar biasa. Para pegulat seringkali dihadapkan pada situasi latihan yang secara sengaja dirancang untuk menguji batas kesabaran dan ketenangan mereka. Tujuannya adalah agar saat berada dalam posisi sulit di pertandingan nyata, mereka tidak panik dan tetap mampu mencari celah untuk membalikkan keadaan. Inilah inti dari keberanian yang tidak mengenal batas.

Secara teknis, penerapan filosofi ini tercermin dalam gaya bertarung pegulat Aceh yang cenderung agresif dan berani melakukan inisiatif serangan. Mereka diajarkan untuk tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan, karena keraguan adalah celah bagi lawan untuk menyerang. Namun, agresi ini harus diimbangi dengan kontrol diri yang kuat sesuai dengan norma dan adat istiadat setempat. Gulat menjadi cara bagi para pemuda di Aceh untuk menyalurkan energi mereka ke dalam kegiatan yang positif dan membanggakan. Melalui filosofi latihan gulat, mereka juga diajarkan tentang pentingnya menghormati lawan, karena tanpa lawan yang tangguh, seorang atlet tidak akan pernah bisa mencapai potensi maksimalnya.

Selain latihan fisik di dalam gedung, para atlet seringkali melakukan latihan di alam terbuka, seperti di pantai atau perbukitan, untuk menyatu dengan alam dan memperkuat fisik secara alami. Tantangan alam ini memberikan perspektif baru mengenai kekuatan dan kerendahan hati. Di bawah naungan federasi, pembinaan ini dilakukan secara berjenjang dari tingkat remaja hingga senior. Setiap kenaikan tingkat latihan selalu dibarengi dengan ujian karakter. Keberanian yang dimaksud di sini bukanlah keberanian yang buta, melainkan keberanian yang terukur, cerdas, dan didasari oleh persiapan teknis yang matang selama bertahun-tahun di tempat latihan.