Aceh memiliki lanskap alam yang liar dan menantang, mulai dari pegunungan terjal hingga sungai-sungai dengan dasar berbatu yang licin. Lingkungan ini dimanfaatkan secara cerdas oleh Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Aceh untuk mengasah salah satu kemampuan paling mendasar bagi seorang pegulat: keseimbangan. Pelatihan keseimbangan statis yang dilakukan di atas bebatuan sungai atau pesisir pantai merupakan metode latihan yang ekstrem namun sangat efektif untuk membangun koneksi antara otak dan otot kaki secara instan. Di atas permukaan batu yang runcing dan tidak stabil, seorang atlet dipaksa untuk menemukan titik berat tubuhnya agar tidak terjatuh, sebuah simulasi yang sangat akurat dengan kondisi saat kaki ditangkap oleh lawan dalam pertandingan.
Mengapa keseimbangan statis begitu penting dalam gulat? Dalam sebuah pertandingan, sering kali terjadi momen di mana kedua atlet saling mengunci dan tidak ada pergerakan besar yang terjadi. Pada saat itulah, kemampuan untuk mempertahankan posisi tetap tegak dan kokoh menjadi penentu. Jika seorang pegulat memiliki basis yang goyah, sedikit tarikan dari lawan akan membuatnya terjatuh. PGSI Aceh melatih para atletnya untuk berdiri dengan satu kaki di atas batu, menahan beban tubuh, dan menjaga postur punggung tetap lurus. Latihan ini menuntut konsentrasi penuh dan aktivasi otot-otot kecil di sekitar pergelangan kaki serta lutut yang berfungsi sebagai stabilisator alami tubuh.
Latihan di atas bebatuan alami memberikan variabel ketidakpastian yang tidak bisa didapatkan di atas matras busa yang empuk. Setiap batu memiliki bentuk, sudut, dan tingkat kelicinan yang berbeda. Kondisi ini memaksa saraf-saraf proprioseptif atlet untuk bekerja lebih keras dalam mengirimkan sinyal ke otak guna melakukan penyesuaian posisi tubuh dalam hitungan milidetik. Peningkatan kemampuan proprioseptif ini akan berdampak langsung pada kecepatan reaksi atlet saat berada di arena pertandingan resmi. Dengan basis keseimbangan yang sudah teruji di medan yang keras, matras pertandingan akan terasa jauh lebih mudah dikuasai dan memberikan rasa percaya diri yang lebih tinggi bagi atlet PGSI Aceh.
Selain kekuatan kaki, keseimbangan statis di atas batu juga melatih kekuatan mental dan ketenangan. Berdiri di atas permukaan yang tidak rata dalam waktu lama akan menimbulkan rasa pegal dan tremor pada otot. Namun, atlet diajarkan untuk tetap tenang, mengatur napas, dan tidak membiarkan rasa sakit tersebut mengganggu fokus mereka. Ketenangan ini sangat diperlukan saat seorang pegulat berada dalam posisi tertekan oleh lawan. Jika mentalnya goyah, maka fisiknya akan mengikuti dan keseimbangannya akan hancur. PGSI Aceh menanamkan filosofi bahwa seorang pegulat harus memiliki ketenangan sedalam samudera dan keteguhan sekokoh batu karang yang diterjang ombak.
