Agenda utama yang menjadi identitas pembinaan di sana adalah upaya untuk Terapkan Disiplin Latihan Fisik yang berada di atas standar rata-rata. Para pelatih di PGSI Aceh merancang program yang sangat menuntut ketahanan (endurance) dan kekuatan ledak (explosive power). Atlet diwajibkan menjalani latihan fisik di medan yang menantang, seperti perbukitan dan pesisir pantai, guna membangun stamina yang luar biasa. Kedisiplinan untuk melampaui batas lelah setiap harinya menjadi kunci utama. Di Aceh, seorang atlet gulat dibentuk untuk memiliki mentalitas baja yang tidak akan menyerah meski kondisi fisik sudah mencapai titik nadir.
Penerapan latihan yang Keras ini bukan tanpa perhitungan. Gulat adalah olahraga kontak fisik yang sangat menguras tenaga dalam waktu singkat. Tanpa modal fisik yang tangguh, teknik terbaik sekalipun tidak akan bisa dieksekusi dengan sempurna saat atlet sudah kelelahan. Oleh karena itu, PGSI Aceh menjadikan kekuatan fisik sebagai fondasi utama. Setiap pagi dan sore, para pegulat menjalani rangkaian latihan beban, lari jarak jauh, hingga latihan sirkuit yang intens. Kedisiplinan dalam menjalankan porsi latihan yang berat ini adalah cara mereka untuk membuktikan bahwa mereka layak menjadi wakil dari daerah Serambi Mekkah.
Tujuan besar dari semua kerja keras ini adalah untuk meraih Kejayaan Regional di wilayah Sumatra maupun nasional. Aceh ingin menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dan menjadi kiblat gulat di wilayah barat Indonesia. Dalam beberapa turnamen regional terakhir, atlet-atlet hasil binaan PGSI Aceh mulai menunjukkan taringnya dengan meraih medali dari lawan-lawan yang lebih senior. Keberhasilan ini semakin memicu semangat pengurus untuk terus meningkatkan standar disiplin latihan mereka agar di ajang seperti PON (Pekan Olahraga Nasional), Aceh tidak lagi hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi penantang gelar juara yang ditakuti.
Selain latihan di lapangan, PGSI Aceh juga menerapkan disiplin perilaku yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal. Atlet diajarkan untuk memiliki karakter yang sopan namun memiliki keberanian yang tinggi saat bertanding. Disiplin waktu dalam ibadah dan istirahat juga sangat diperhatikan oleh tim pelatih, karena keseimbangan mental dan spiritual diyakini memberikan kekuatan tambahan saat menghadapi tekanan di atas matras. Pendidikan karakter ini menjadi bagian dari filosofi “Tangguh” yang ingin ditanamkan; bukan hanya tangguh secara raga, tapi juga tangguh secara jiwa.
Dukungan pemerintah daerah dan masyarakat terhadap program PGSI Aceh terus meningkat seiring dengan prestasi yang mulai terlihat. Hal ini membuat fasilitas latihan dan peralatan pendukung mulai diperbarui guna menyeimbangkan intensitas latihan fisik yang tinggi. Para atlet pun merasa lebih termotivasi karena mereka melihat bahwa Terapkan Disiplin Latihan Fisik dan pengorbanan mereka mendapatkan apresiasi yang layak. Konsistensi dalam menjalankan program fisik yang keras ini perlahan tapi pasti telah menempatkan Aceh dalam jajaran daerah yang memiliki potensi gulat paling menjanjikan di Indonesia.
