Jika kita melihat lebih dekat ke Dibalik Layar PGSI Aceh proses latihan sehari-hari, kita akan menemukan sebuah dedikasi yang luar biasa dari para pengurus dan pelatih. Banyak pusat latihan di wilayah ini yang masih menggunakan matras yang sudah berumur puluhan tahun dan sudah tidak lagi empuk. Namun, bagi para atlet lokal, hal tersebut bukanlah alasan untuk bermalas-malas. Mereka justru merasa bahwa berlatih di tengah keterbatasan fasilitas adalah cara terbaik untuk mengasah mentalitas “pejuang” mereka. Jika mereka bisa bertahan dan unggul dengan alat seadanya, maka saat mereka mendapatkan fasilitas yang lebih baik, performa mereka akan meledak berkali-kali lipat.
Aceh dikenal sebagai daerah dengan semangat juang yang tinggi, dan hal ini tercermin dengan sangat jelas dalam perkembangan olahraga gulat di sana. Meskipun jarang tersorot oleh kamera media nasional, pengurus daerah PGSI di Bumi Serambi Mekkah ini terus bekerja keras dalam kesunyian untuk membina talenta-talenta muda. Namun, perjuangan mereka tidaklah mudah. Berada jauh dari pusat industri olahraga nasional menciptakan berbagai tantangan tersendiri, mulai dari ketersediaan alat latihan yang standar hingga minimnya jam terbang kompetisi yang berkualitas bagi para putra daerah.
Salah satu tantangan terbesar bagi pengurus organisasi gulat di Aceh adalah masalah geografis dan biaya transportasi. Untuk mengikuti turnamen berkualitas, mereka sering kali harus melakukan perjalanan jauh ke pulau Jawa atau daerah lain di Sumatera dengan anggaran yang sangat minim. Sering kali, para pelatih dan atlet harus bergotong-royong untuk menutupi biaya akomodasi. Namun, rasa solidaritas yang kuat inilah yang membuat tim ini menjadi sangat solid. Di lapangan, mereka tidak hanya bertarung untuk medali, tetapi juga untuk kehormatan komunitas yang telah bersusah payah mendukung keberangkatan mereka.
Untuk menyiasati kurangnya peralatan modern, para pelatih di sana sangat kreatif dalam menciptakan alat latihan alternatif. Mereka memanfaatkan lingkungan sekitar, seperti berlatih di atas pasir pantai untuk memperkuat otot kaki, atau menggunakan pohon dan tali tambang sebagai pengganti alat beban di gym. Inovasi-inovasi sederhana ini ternyata efektif dalam membentuk fisik atlet yang liat dan tahan banting. Karakteristik pegulat dari wilayah ini dikenal memiliki daya tahan yang sangat baik dan tenaga yang “mentah”, yang sering kali merepotkan lawan-lawan yang terbiasa berlatih di tempat mewah dengan pendingin ruangan.
