Kontrol pergelangan tangan atau wrist control adalah elemen krusial dalam pertarungan bawah maupun berdiri dalam gulat. Kemampuan untuk mendominasi tangan lawan memberikan keuntungan taktis yang besar, baik untuk melakukan serangan maupun untuk bertahan. Namun, tindakan memegang tangan lawan yang berusaha memberontak sering kali menempatkan pergelangan tangan kita pada posisi yang rentan terhadap cedera twist atau puntiran. PGSI Aceh melalui program pembinaannya menekankan pentingnya penguasaan Teknik Wrist Control yang aman guna menghindari risiko cedera ligamen yang sering dialami oleh para pegulat di daerah tersebut.
Prinsip utama yang diajarkan adalah jangan pernah melawan kekuatan lawan hanya dengan satu tangan jika memungkinkan. Saat melakukan kontrol, posisi ibu jari dan empat jari lainnya harus membentuk “C-grip” yang kokoh pada bagian paling tipis dari pergelangan tangan lawan. PGSI Aceh menjelaskan bahwa kunci agar tangan kita anti terkilir adalah dengan menjaga siku kita tetap dekat dengan tubuh. Ketika siku menjauh dari badan, stabilitas pergelangan tangan akan berkurang drastis, sehingga lawan lebih mudah melakukan gerakan memutar yang dapat mencederai sendi kita.
Banyak kejadian di mana pegulat mengalami dislokasi ringan karena mereka bersikeras mempertahankan pegangan saat lawan melakukan gerakan eksplosif untuk lepas. Dalam panduan versi PGSI Aceh, pemain diingatkan bahwa jika posisi tangan sudah tidak menguntungkan secara mekanis, lebih baik melepaskan pegangan dan mencari posisi kontrol yang baru daripada memaksakan kuncian yang berisiko. Mengetahui batasan sudut putar sendi adalah bagian dari kecerdasan bertarung. Pergelangan tangan manusia memiliki keterbatasan dalam menahan beban lateral, sehingga penggunaan lengan bawah sebagai penopang tambahan sangat disarankan.
Latihan khusus yang diterapkan di Aceh melibatkan penguatan otot-otot supinator dan pronator di lengan bawah. Otot-otot inilah yang berfungsi menjaga pergelangan tangan tetap stabil saat terjadi benturan atau tarikan mendadak. Selain itu, penggunaan teknik “dua lawan satu” (two-on-one) sangat direkomendasikan. Dengan menggunakan dua tangan untuk mengontrol satu tangan lawan, beban kerja terbagi merata dan risiko cedera berkurang hingga tujuh puluh persen. Hal ini merupakan strategi yang sangat efektif bagi pegulat yang menghadapi lawan dengan kekuatan fisik yang lebih besar.
